Pertanyaan vs Kesalahan Bodoh

Lebih baik mengajukan pertanyaan bodoh daripada membuat kesalahan bodoh. Hmm...bener gitu ya?


Sejujurnya, logika saya ingin sekali mengamini kalimat tersebut. 

Maksud saya, kalau itung-itungan untung rugi, harusnya kan lebih rugi bila kita melakukan kesalahan bodoh daripada mengajukan pertanyaan yang, hmm...bodoh.

Lagi pula, bukan kah malu bertanya, sesat di jalan. Jadi, mending tanya daripada salah, ya kan?

At some point...ya, pertanyaan bodoh memang lebih baik daripada kesalahan bodoh. Karena, di beberapa bidang, terutama yang berhubungan dengan akurasi, presisi, safety, harga sebuah kesalahan bodoh amatlah mahal.

Bukan hanya mahal secara finansial, tapi bisa juga berimbas pada nyawa.

Kebayang nggak, kalau mekanik di perusahaan otomotif, lupa atau keliru masang baut rem? Worst scenario-nya, terjadi kecelakaan yang merenggut nyawa.

Atau, apa jadinya ketika dokter bedah melakukan kesalahan saat melakukan operasi? Lagi-lagi, kemungkinan terburuknya, nyawa melayang.

Nah, kalau sudah seperti itu kan runyam jadinya. Jadi, lebih baik mengajukan pertanyaan, walaupun kedengarannya bodoh bukan?

Yup. Ya setidaknya, sampai pertanyaan bodoh itu menjadi sebuah kesalahan bodoh.

Masalahnya, adalah ada beberapa orang yang...hmm, how to say it, asal njeplak, menanyakan sesuatu tanpa dipikir dulu, dan hanya mengharapkan jawaban instan.

Parahnya, nggak jarang pertanyaan itu adalah pertanyaan dasar yang dilogika sendiri bisa. Atau lebih buruk, pertanyaan berulang. Udah pernah ditanyain, udah pernah dijawab, tapi ditanyain lagi. Udah gitu nanyanya nggak lihat-lihat pula. 

Orang lagi spaneng mikirin masalah lain, eh dia datang main nyerocos, nanyain yang itu-itu lagi.

Nah loh. Kalau kamu jadi yang ditanyain, kira-kira apa yang kamu pikirkan, rasakan, dan lakukan?

Sumpek?

Saya akan sangat tertegun dengan kesabaran dan kebesaran hatimu jika kamu still okay with that.

Kalau saja, orang-orang seperti ini, mau sedikit saja berempati, mencoba memahami seperti apa posisi orang yang dia tanya, saat dia datang dengan pertanyaan random-nya itu, tentunya situasinya akan berbeda.

Atau, kalau saja...dia mau sedikit saja meluangkan waktu dan tenaga untuk berpikir atau mencari jawabannya sendiri dulu, alih-alih mengharapkan jawaban instan, bukan kah akan lebih baik bagi kedua pihak jika seperti itu?

Setidaknya, baca sebelum tanya.

Kalau pun memang ada yang perlu ditanyakan, tentunya konteksnya akan berubah dari meminta solusi instan, menjadi sebuah diskusi dua perspektif berbeda. Dan hasilnya, bisa jadi luar biasa dibandingkan...you know, komunikasi satu arah.

Lesson Learned

Baca sebelum tanya. Diskusikan opsi, bukan semata meminta solusi. 

Pertanyaan bodoh memang lebih baik daripada kesalahan bodoh, hingga akhirnya pertanyaan bodoh itu menjadi sebuah kesalahan bodoh.

13 komentar

  1. Masalahnya beberapa orang itu malas untuk membaca lebih dalam sehingga lebih suka bertanya hal-hal kecil yang kadang sebenarnya dia sendiri sudah tahu jawabannya. Mungkin dia pengin kelihatan atau jadi pusat perhatian karena pertanyaannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau pengalaman saya sih karena terbiasa disuapin, jadinya apa2 mau yang instan.

      Hapus
  2. Setuju Menurut mbak Tikha, kadang kesalahan muncul orang gak paham bahkan gak baca betul-betul jadinya kesalahan itu terjadi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terlalu tergesa-gesa. Bisa jadi karena terbiasa hidup di lingkungan yang memfasilitasi ke-impulsif-an dia.

      Hapus
  3. Sangat sangat sangat setuju untuk baca dulu baru tanya. Minimal, googling. Supaya kita juga meringankan beban yg kita tanyain tuh. Biar dia ngga mengulang2 info yang seharusnya udah ada di buku/internet

    BalasHapus
    Balasan
    1. Atau setidaknya, lihat2 lah situasi dan kondisi bila hendak bertanya.

      Hapus
  4. Karena kita kurang lengkap baca suatu persoalan. Jadi pertanyaan yang dilontarkan tampak sebuah pertanyaan bodoh. Dan kalau dibiarkan terus, ya, benar akan menjadi kesalahan bodoh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mbak. Salah itu lumrah kalau sekali. Kalau terus2an itu tuman namanya.

      Hapus
  5. Kalau anak-anak yang nanya sih gak masalah ya, bertanya terus-terusan. Tapi kalau orang dewasa kayak aneh aja gitu, caper lah ya istilahnya cari perhatian. Padahal kan jaman sekarang juga bisa nyari di gugel, atau mungkin dia yang bertanya ini lagi males gugling ya

    BalasHapus
  6. Bagus juga siih...
    Ini semacam kalau ada campaign blogger dan ada orang yang sibuk bertanya terus di grup. Menurutku itu bukan lebih baik bertanya pertanyaan bodoh daripada membuat kesalahan bodoh, tapi gak mau membaca dengan baik apa yang dituliskan sebagai panduan.

    Jadi ada baiknya bertanya setelah benar-benar membaca dengan tuntas apa yang diberikan sebagai manual.

    BalasHapus
  7. Betul banget, terkadang aku merasa malu sih kalau harus bertanya dengan pertanyaan yang kalau dipikir-pikir bisa kok di jawab sendiri atau ya googling dulu deh. Kalau mentok banget nggak dapat jawaban baru deh bertanya ya.

    BalasHapus
  8. Fenomena nanya hal2 remeh gini banyak banget di kolom komentar tiktok mas. Kadang suka shock sendiri baca pertanyaan2 jaman sekarang, mostly ga tau hal2 basic. Duh...

    BalasHapus
  9. Ah iya, memang lebih baik menanyakan hal bodoh daripada melakukan kesalahan bodoh. Namun sebelum bertanya lebih baik coba usaha dulu deh minimal googling agar kita kesannya bukan orang yang nggak tahu apa-apa :-D

    BalasHapus

Posting Komentar

Share opini atau pengalaman kamu tentang topik tulisan ini di sini. Share juga tulisan ini temen-temenmu, jika menurutmu bermanfaat.

&Joy!

[ADS] Bottom Ads

© 2021

prim.