Esai : Papa Juga Lupa

Esai ini adalah repost dari blog lama yang sudah almarhum.

Mata kuliah parenting yang paling sulit adalah menjadi parent (orang tua).

Saya ingin membagikan sebuah esai yang pernah saya baca dulu tentang seorang ayah, karya W. Livingstone.


Apresiasi tinggi saya ucapkan kepada mas Sridewanto Pinuji yang telah mengabadikan esai inspiratif ini di blognya.


Selamat membaca dan semoga bisa memberi faedah buat kita semua, terutama saya yang sering lupa peran saya sebagai seorang ayah.

***

Papa Juga Lupa

Dengarlah, Nak….

Papa lakukan semua ini ketika kamu tidur, saat satu tanganmu menyangga pipimu yang gembil dan tertutup beberapa helai rambut keritingmu itu.

Sendirian Papa memasuki kamarmu. Beberapa menit yang lalu, ketika Papa membaca buku di luar, menerpalah satu gelombang penyesalan.

Dengan penuh perasaan bersalah, sekarang Papa duduk di samping ranjangmu.

Ada beberapa hal yang telah Papa lakukan, nak:

Papa marah karena kamu hanya cuci muka sebelum berangkat ke sekolah.

Papa berteriak manakala sepatumu kotor dan tidak dibersihkan.

Papa juga menghardikmu pada saat kamu begitu saja melempar handuk yang habis dipakai ke lantai.

Ketika sarapan, lagi-lagi kamu membuat Papa marah.

Kamu menumpahkan sayur, makan bersuara, dan sikumu di meja.

Terus, saat kamu mau berangkat ke sekolah, Papa juga membentak karena jalanmu tidak tegap dan hanya melambaikan tangan ke Papa.

Sore harinya, lagi-lagi Papa tidak suka dengan apa yang kamu lakukan.

Ketika bermain kelereng, dengkulmu menempel ke tanah dan membuat celanamu kotor, bahkan Papa lihat ada lubang di sana.

Karena itu, maka Papa lagi-lagi marah padamu di depan teman-temanmu dan menyeretmu masuk ke dalam rumah.

Jika saja kamu tahu, celanamu itu mahal dan mengotorinya akan akan menambah pekerjaan.

Setelah itu, ingatkah kamu saat Papa membaca dan kamu datang dengan pandangan penuh harapan?

Saat itu Papa pun tak sabar karena kamu mengganggu keasyikan membaca.

Kamu berdiri gamang di pintu dan Papa bertanya, “Mau apa kamu?”

Kamu tidak berkata apa pun, Nak, malah berlari begitu saja, melingkarkan tangamu di leher Papa dan memberikan ciuman di pipi.

Kemudian, kamu pun berlari, kembali masuk ke kamarmu.

Nak, tak lama kemudian buku yang Papa baca melorot ke pangkuan dan sebentuk ketakukan menyergap.

Kebiasaan apa yang telah Papa lakukan?

Hobi menemukan kesalahan dan menghardik hanya karena kamu adalah lelaki muda yang belum lagi dewasa….

Itu semua bukan karena Papa tidak sayang, namun karena harapan yang terlalu tinggi kepadamu.

Papa telah mengukurmu dari sudut pandang seorang lelaki dewasa….

Padahal tidak ada yang keliru dengan semua perbuatanmu dan apa yang kamu lakukan sungguh sempurna…..

Terutama ketika kamu datang dan memeluk, kemudian mencium Papa.

Malam ini tak ada hal lain yang lebih penting, Nak. Jadi Papa di sini, di sampingmu ketika kamu tertidur dan Papa sungguh merasa malu.

Ini adalah penebusan dosa sebab Papa tahu kamu tidak akan paham jika Papa bilang semua ini ketika kamu terjaga.

Namun, besok pagi, Papa akan berubah, akan menjadi ayah yang sebenarnya….

Papa akan menjadi sahabatmu, sedih jika kamu sedih, dan tertawa jika kamu gembira.

Papa akan menahan diri jika kecewa dan memilih diam. Papa hanya akan bergumam dan menjadikannya semacam ritual, ‘Kamu bukanlah siapa-siapa kecuali lelaki kecil, hanya anak kecil….’

Sepertinya selama ini Papa keliru dengan melihatmu sebagai seorang lelaki dewasa.

Namun, sekarang aku melihatmu… ketika meringkuk di baju tidurmu yang mulai terlihat sempit.

Ternyata kamu tak berubah. Bagi Papa, kamu adalah seorang bayi yang kemarin masih digendong Mama.

Papa telah meminta terlalu banyak, terlalu banyak… .

Posting Komentar

[ADS] Bottom Ads

© 2021

prim.