Nanti Kita Cerita Tentang Juli


Kehilangan hanya bisa dirasakan bagi orang yang memiliki. Namun, seringkali orang yang tidak memiliki pun juga bisa merasakan kehilangan ketika mereka merasa memiliki sesuatu yang sebenarnya tidak pernah menjadi milik mereka...sesuatu yang sebenarnya, tak lebih adalah sebuah, titipan.

Bulan ini bisa jadi bulan yang sangat berat untuk dilalui ibu. Bagaimana tidak, di bulan ini, 3 orang terdekatnya dalam waktu yang berdekatan harus memenuhi panggilan sang Rabb untuk pulang kembali pada-Nya.


Kepulangan Sang Ibu 

Uti saya, ibunya ibu, menjadi orang pertama di bulan ini yang pulang ke Rahmatullah. Usia beliau memang sudah sepuh, dan kondisi kesehatannya juga tidak terlalu baik.

7 Juli 2021, di pagi hari ba'da sholat Shubuh, seperti rutinitas biasanya, saya membersihkan rumah, menanak nasi dan menghangatkan lauk untuk sarapan. Lalu, sebuah notifikasi pesan Whatsapp berbunyi saat saya sedang asyik dengan rutinitas pagi saya.

Pesan singkat dikirim oleh bapak di Surabaya, cukup membuat saya terdiam pagi itu. "Uti, meninggal," isi pesan itu.

Walaupun saya tidak terlalu dekat dengan Uti, tapi saya sedih apalagi membayangkan bagaimana sedihnya perasaan ibu saya. 

Karena telepon tidak diangkat, saya pun mengirimkan pesan Whatsapp untuk mendoakan Uti dan juga ibu agar diberi kesabaran dan kekuatan.

Kepulangan Sang Adik

Siangnya, saat sedang menyelesaikan beberapa pekerjaan di kantor, iseng saya lihat-lihat update stories di Whatsapp. Dan saya terkejut bukan main, melihat story kakak saya yang tadinya memasang foto Uti dengan caption : Allah sayang Uti, bertambah dengan foto tante, adik Ibu, dengan caption : Allah sayang tante juga.

Saya terdiam membayangkan seperti apa kacaunya perasaan ibu saat itu.

Ba'da sholat Dhuhur, saya mencoba kembali menghubungi Ibu. Kali ini, telepon diangkat. Namun, tidak ada kata-kata apa pun yang terucap selain deru isak tangisan ibu menggema di telinga saya.

Lalu, setelah berdiskusi dengan istri saya tentang rencana untuk pergi ke Surabaya, mengingat kasus posiif C19 di Surabaya waktu itu lagi tinggi-tingginya, saya pun mantap berangkat ke Surabaya dan berkomitmen untuk taat ketat prokes.

Saya izin pulang lebih awal ke atasan saya dan segera bertolak ke Surabaya.

Sesaat sebelum saya sampai ke rumah duka, saya mampir ke Masjid untuk sholat Ashar dan mengganti pakaian saya dengan jas hujan model atasan-bawahan, hood terpasang, sarung tangan nitril menyelimuti kedua tangan saya, masker dobel, dan kacamata. 

Jangan tanya gimana ademnya saya mengenakan 'baju zirah' itu. Keringat tak lagi menetes, tapi banjir sampai kluncum saya dibuatnya.

Ya mau gimana lagi, kondisinya memang sedang seperti ini. Walaupun Uti dan Tante keduanya tidak meninggal karena Covid, but still, saya harus tetap menjaga diri, demi saya dan utamanya anak dan istri saya saat saya pulang nanti.

Singkat cerita, saya sampai ketika prosesi pemandian Alm Tante selesai dan perlu diangkat ke dalam rumah untuk dikafani. Karena saya sudah 'siap tempur' saya ikut membantu bapak-bapak tetangga mengangkat jenazah Tante ke dalam rumah.

Di sana saya bertemu kakak sulung dan ibu yang tampaknya sudah cukup tenang (for a moment).

Kakak sulung, mbak saya cerita tentang kronologi meninggalnya Uti dan Tante. Mbak yang merawat Uti menjelaskan waktu meninggalnya Uti yang terjadi pada dini hari, dan bagaimana dia sendirian membantu Uti di detik-detik terakhirnya mengucap doa. Kemudian bagaimana Tante yang sebelumnya memilki riwayat penyakit jantung, kolaps ketika mendengar kabar Uti telah meninggal dunia dan akhirnya menyusul sang Ibunda ke Rahmatullah.

***

Proses mengkafani jenazah Tante pun usai dan berlanjut ke sholat jenazah dan pemakaman. Setelah orang-orang pergi, saya melihat Mbak tiba-tiba terduduk di lantai sambil megap-megap.

"Kenapa Mbak?" tanya saya dengan khawatir. "Sik dadaku sesek," jawabnya singkat.

Dalam kondisi pasca Uti dan Tante meninggal tak lama sebelumnya, saya langsung auto panic. Buru-buru saya suruh Ibu mengawasi Mbak dan saya pergi mencari tabung oksigen untuk membantu pernafasannya.

Setelah muter-muter keliling ke 5-8 apotek, Alhamdulillah, saya berhasil mendapatkan 2 tabung oksigen kecil untuk Mbak saya. Di perjalanan, saya hanya bisa berdoa agar masih disempatkan untuk menggunakan oksigen ini buat Mbak.

Alhamdulillah, sesampainya saya di sana, Mbak sudah kelihatan lebih baik walaupun nafasnya masih tersengal-sengal. Buru-buru saya sodorkan 2 botol oksigen itu agar segera digunakan untuk membantu pernafasannya.

"Ini gimana cara pakainya Dik?" tanya Mbak, dan saya pun otomatis bingung. Lah saya nggak pernah pakai beginian, mana tahu cara pakainya. Untungnya sepupu, anak Tante saya tahu cara penggunaanya.

At the end of the day, semua kembali ke rumah masing-masing, untuk mengistirahatkan badan dan hati yang tekoyak karena kepulangan 2 anggota keluarga kami.

Finally...

Manusia berusaha, Allah menentukan

Rabu, 21 Juli 2021, setelah menjalani perawatan di sebuah rumah sakit di Surabaya, Mbak pun akhirnya menyusul Uti dan Tante pulang ke Rahmatullah.

Setelah kepulangan dari rumah Tante, Mbak mengambil inisiatif untuk melakukan Tes Antigen karena sebelumnya merasa kehilangan indra penciumannya. Dan, qadarullah, hasil Antigen menunjukkan positif Covid.

Akhirnya, isolasi mandiri pun dilakukan. 

Dengan pengarahan Mas yang memiliki latar belakang medis, isolasi mandiri dilakukan dan beberapa perubahan gaya hidup pun harus diterapkan.

Untuk mempersiapkan kemungkinan terburuk, kami sekeluarga hunting tabung oksigen yang ketika itu sedang langka-langkanya. Nyari muter-muter nggak ketemu, mulai daring hingga luring tak kunjung bersua, bahkan hampir tertipu oknum yang meminta transfer dulu sebelum barang dikirim.

Sulitnya mencari tabung oksigen ini, mirip-mirip lah sama sulitnya cari pembantu yang baik dan amanah. Huangeeelll.

Singkat cerita, kami berhasil mendapatkan sebuah tabung oksigen berukuran 1 m3. 

Entah gimana ceritanya, Mbak ketika itu dibawa ke rumah sakit untuk foto thorax yang berlanjut dengan rawat inap. Sejujurnya ketika mendengar Mbak harus rawat inap di rumah sakit itu, perasaan saya sudah nggak karuan.

Di tempat yang sama, 3 orang yang saya kenal mendapat penanganan yang tak hmmm...how to say it, ya intinya, kalau di rumah sakit lain penanganannya akan lebih cepat dan tepat lah. 2 di antaranya, saat ini sudah tak lagi membersamai kami selamanya.

13 Juli 2021, Mbak pun mulai menghabiskan hari-harinya di rumah sakit itu. Namun, kondisinya tak kunjung stabil. Hingga akhirnya, Rabu 23 Juli 2021, istri saya menelpon dan mengabarkan berita itu.

Saya kaget dan nggak percaya. Saya hanya bisa diam dan melihat ke langit sambil bergumam, "Seriously? No more time for her?"

Setelah semua yang kami ikhtiarkan untuknya, kemudian keputusan-Nya berkata lain itu rasanya seperti campur aduk. Di satu sisi, ada perasaan tidak terima, menganggap keputusan-Nya itu tidak tepat. Namun di satu sisi, dengan sisa-sisa kewarasan, terpikir bahwa ini yang terbaik, kita sudah lakukan semuanya, dan hasil akhirnya, it's absolutely up to Him to decide.

Going forward...

Kami semua sudah melakukan semua yang kami bisa untuk Uti, Tante dan Mbak. Namun, sad but truth, kami harus menerima bahwa kami adalah makhluk lemah yang tidak memilki kuasa apa pun pada hasil dari ikhtiar kami.

Usaha tidak akan mengkhianati hasil? Bullshit

Sekarang apa yang bisa kami lakukan adalah menyelesaikan kewajiban-kewajiban para almarhumah di dunia, menjaga diri dan keluarga kami yang masih hidup dengan sebaik-baiknya. 

Sedih? Iya kami sedih. Namun, somehow saya kira, bagi mereka yang mendahului kami, melihat kami bersedih adalah hal terakhir yang mereka harapkan. Jadi, mungkin lebih baik bila kami terus menjalani hidup as if they were still alive

Setidaknya, itu cara terbaik untuk menghormati mereka yang telah mendahului kita bukan?
 

6 komentar

  1. turut berduka cita mas prima
    akhir akhir ini sering banget denger berita duka. Sepupu dari almarhum bapakku dan istrinya juga meninggal.
    semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih mbak Ainun. Turut berduka cita juga untuk sepupu & istri alm. bapak. Semoga diampuni dosa2nya dan diberi tempat terbaik di sisi-Nya.

      Hapus
  2. kematian terasa seperti ada di ujung jari, bahkan lebih dekat. ia melekat. saya tidak bisa membayangkan rasa sedih yang keluarga kakak rasakan, tapi kehilangan satu saja , dunia sudah terasa runtuh. Turut berduka cita sangat dalam kak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. جَزَا ك الله خَيْرًا كَثِيْرًا

      Terima kasih Mbak Eka. Doa terbaik juga untuk mbak Eka sekeluarga. Stay safe & healthy ya Mbak.

      Hapus
  3. Ikut berduka ya Mas Prim.


    Btw, ternyata RS yg dimaksud sesuai dugaan saya.


    Dokter dan nakesnya memang ngga pro.

    Pas blum pandemi aja, mereka kayak diagnosa ngasal.

    Apalagi pas pandemi gini. Kayaknya kalo masuk.k situ, auto ngga dirawat dah

    BalasHapus
    Balasan
    1. So I'm not the only one berarti.
      Terima kasih atas simpatinya, doa terbaik buat mbak nurul sekeluarga.

      Hapus

Posting Komentar

Share opini atau pengalaman kamu tentang topik tulisan ini di sini. Share juga tulisan ini temen-temenmu, jika menurutmu bermanfaat.

&Joy!

[ADS] Bottom Ads

© 2021

prim.