Udah, Jalani Aja..


Saya dan istri saya sama-sama seorang pemikir. Ada banyak pertimbangan yang akan kami pikirkan sebelum mengambil keputusan. Bedanya, kalau istri saya mikirnya jauh ke depan, nah saya mikirnya jauh ke dalam, dalaaaaam sekali.


Menjelang hari pertama kegiatan belajar mengajar, sekolah tempat Bio akan menempuh jenjang pendidikan SD mengadakan rapat bersama wali murid untuk memaparkan program sekolah selama 1 semester ke depan, persiapan-persiapan yang harus dilakukan oleh anak dan orang tua demi kelancaran proses belajar mengajar.

Dalam acara yang dihelat secara daring tersebut, kepala sekolah, ustad/ustadzah (sebutan untuk guru), dan sejumlah orang tua berkumpul untuk sosialisasi program sekolah.

Di acara yang berlangsung selama 2.5 jam itu, saya memerhatikan dengan seksama poin demi poin yang dijelaskan mengenai sasaran kompetensi, proses belajar mengajar, alat dan bahan yang diperlukan dll.

Dan jujur saya shock berat mendengarkan semua paparan itu. Hal pertama yang saya langsung pikirkan adalah how will exactly the class will be conducted, apa yang harus saya lakukan, dsb.

Tak lama sebelum acara sosialisai ini, istri saya sudah sounding, meminta saya untuk take care project rumah kami di Surabaya karena blio lagi hectic banget dengan aktivitas hariannya di kantor dan rumah.

Di kantor, kinerja saya sedang dalam kondisi yang menyedihkan. Target demi target yang sudah dicanangkan banyak yang miss untuk dipenuhi. Sementara project-project baru terus datang menghampiri tak peduli bagaimana berdarah-darahnya saya dalam memenuhi target yang ada saat ini.

Belum lagi masalah pandemi ini yang ikut mampir menghampiri kakak saya yang di Surabaya. Sempat pusing tujuh keliling nyari-nyari tabung oksigen yang langka dan dimanfaatkan oknum tak bertanggung jawab demi keuntungan sesaat.

Dan di sinilah saya, menghadapi semua persoalan itu dengan satu pertanyaan besar di kepala : HOW THE HELL I MANAGE ALL THESE?

Jalani Aja...

Jujur saya takut. Takut tidak mampu menangani semuanya. Takut gagal. Takut dinilai buruk oleh orang lain, maupun oleh diri sendiri.

Di tengah kekalutan itu, semalam ketika bersama istri menyiapkan makan malam, saya memberanikan diri untuk menyampaikan apa yang saya rasakan dan pikirkan. Ketakutan dan kekhawatiran saya.

Ia menghela nafas panjang lalu berkata, "Ya sudah dijalani aja Papa. Kalau terlalu dipikir nanti malah diganggu setan dan nggak dikerjain."

Fuuh...bener juga sih. Selama ini ketika menghadapi sebuah persolan, hal pertama yang saya lihat adalah bagian horornya dulu. Kemudian saya coba 'tangkal' kehororan itu dengan menyusun sebuah rocket-science-action-plan yang super duper ruwet dan njelimet. Looks good, tapi tidak doable.

Apa bagusnya rencana yang hanya indah di kertas (atau komputer) tapi tidak bisa dieksekusi.

Dan setelah obrolan singkat itu, saya menatap ke langit dan tersenyum. ﷲ benar-benar baik telah mengirimkan wanita luar biasa untuk mendampingi saya. Mengingatkan saya saat mulai keluar jalur, bahkan menarik paksa untuk kembali ke jalur yang seharusnya.

Sedikit beban mulai terangkat. Kata-kata istri saya menyadarkan saya bahwa banyak hal yang saya selama ini tidak lakukan itu semata karena saya terlalu fokus pada sisi menyeramkannya, menghabiskan terlalu banyak waktu dan energi untuk menyusun rencana super njelimet alih-alih mengambil langkah esensial: LAKUKAN.

Bukan berarti perencanaan itu tidak penting. Bukan pula bermaksud bilang kalau memikirkan persoalan itu buang waktu. Hanya saja, at the end, apa yang kita lakukan itu lebih penting dari apa yang MAU kita lakukan. Apa pun hasilnya, udah serahkan sama ﷲ. 

Lakukan porsi kita, dan serahkan sisanya pada Yang Maha Kuasa.

Kalau berhasil itu karena ﷲ mengizinkan. Kalau nggak berhasil, itu karena ﷲ punya rencana lain yang kita nggak pernah tahu apa itu sampai akhirnya rencana tersebut terwujud.

Memikirkan persoalan secara berlebihan juga mengundang setan untuk menggoda kita dengan membisikkan memori-memori kegagalan kita, meyakinkan kita betapa tidak bergunanya kita dan membuat kita percaya bahwa kegagalan yang kita alami merupakan bukti bahwa kita itu manusia gagal.

Setidaknya itu yang saya rasakan, berkaca dari kegagalan-kegagalan yang lalu.

Jadi kenapa nggak, jalani saja. Pahami situasinya, susun rencana sederhana, lakukan dan pasrahkan hasilnya pada ﷲ. Toh kita mengawalinya juga dengan menyebut nama ﷲ dan niatnya pun untuk mencari ridlo ﷲ. Lakukan yang semaksimal mungkin dan pasrahkan hasilnya.

Percaya bahwa ﷲ telah membawa kita hingga sejauh ini bukan untuk menggagalkan kita kok. Dia telah menuntun kita sejauh ini dan Dia akan tetap menuntun kita asalkan kita mau dan berserah kepada yang sudah Dia gariskan.

Hidup memang tidak bisa lepas dari masalah dan berbagai persoalan lainnya. Namun jangan lupa, sebesar-besarnya masalah yang kita hadapi, ﷲ itu Maha Besar lho.

Jadi, tersenyumlah dan hadapi masalahmu dengan kepala tegak. Jangan kalah sama masalah. Tetaplah bahagia karena Dia sudah janji nggak akan ninggalin kita dan Dia selalu menepati janji.

Semoga sharing singkat ini bermanfaat buat kamu dan terutama buat saya yang sering lupa ini. 

13 komentar

  1. Jalani Aja adalah mantraku selama pandemi ini. Nyatanya memang manusia hanya bisa berencana, sekuat apapun berusaha, sudah ditentukan hasilnya oleh Tuhan. Terima kasih pengingatnya untuk selalu kembali kepada Tuhan

    BalasHapus
  2. jalani saja dengan bekal dan persiapan yang sudah kita rencanakan sebelumnya, mas. Kalau niat dan usaha sudah kuat, insya Allah dimudahkan. Mas prim juga kudu yakin kalau it shall too past juga.. semangat

    BalasHapus
  3. Jalani saja. Aku juga seorang yang pemikir. Ketika akan melakukan sesuatu, hal yang dipikirkan adalah kemungkinan terburuknya. Hingga kadang sampai takut memulai. Takut gagal, takut apa yang dipikirkan beneran kejadian.

    Padahal ketika kita mencoba menjalani saja apa yang ada di hadapan kita dengan baik. Hasilnya nggak akan seburuk itu. Bahkan pada banyak kejadian malah jauh lebih baik.

    Kita hanya terjebak ketakutan diri sendiri saja sih sebenarnya.

    BalasHapus
  4. Alhamdulillah ya kak prima, ALlah melengkapi pasangan dengan lengkap. Kadang saya juga mengalaminya, ketika overthinking dia yang ngerem dan selalu bilang, jalani aja pasrah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah memang mbak. She is the best thing ever that is not thing at all.

      Hapus
  5. saya kalo dihadapkan para tugas/persoalan, biasanya juga suka mikir apa bisa saya mengerjakannya? Namun suami biasanya suka menyemangati bahwa saya bisa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Syukurlah punya pasangan yang selalu menyemangati ya mbak

      Hapus
  6. iya sama nih kak, aku ya berprinsip jalani aja selama semuanya masih dijalan yang normal dan wajar. apalagi masalah hubungan ya kan.

    duh, padahal aku belum married, hihi, tapi namanya hubungan emang selalu banyak masalah apalagi masalah karena ego masing-masing , uhuk curhat

    BalasHapus
  7. Di pandemi ini aku mengambil prinsip dicoba aja dulu..semangat mas Prim. Aku suka mengambil prinsip nya founder tokped...
    Mimpi
    Mimpi di pikirkan jadi rencana
    Rencana diucapkan jadi komitmen
    Komitmen di kerjakan jadi kenyataan

    BalasHapus
  8. Iya nih, kadang kalau ada sebuah persoalan, selalu dalam hati "bisa gak ya, selesai gak ya..", Tapi setelah melihat orang lain bisa, saya juga harusnya bisa selesai. Sama-sama makan nasi, sayur, dan lauk yang sama juga kok. Bener banget, yang penting jalani aja dan dicoba aja dulu satu persatu hingga semuanya bisa dilakukan atau dieksekusi.

    BalasHapus
  9. Kalau di saya, versi yang 'Ya sudahlah.
    Pasang target begini begitu, tidak tercapai meski sudah kerahkan usaha maksimal, 'Ya sudahlah'.
    Standar tinggi di setiap pekerjaan yang harus tercapai, tapi ternyata tidak, 'Ya sudahlah'.

    Tapi ya tentu setiap ikhtiar memang sudah dijalankan, termasuk prosesnya dan langkah-langkah untuk wujudkan target.

    Terpenuhi semua, eh, hasil melenceng. Saya ikut istrinya Pak Prim, 'Ya sudahlah, dijalani saja'.

    Semangat jaga sehat..

    BalasHapus
  10. Iya, yang penting jalani saja. Apapun itu, terpenting kita usaha. Hasil biar Tuhan yang menentukan. Selama kita menjalaninya dengan ikhlas. Insya Allah, pasti bisa melewati semuanya.

    BalasHapus
  11. Betul, kadang terasa overwhelmed kalau dilihat semua. Tapi ketika dijalani satu satu sambil yakin, insya Allah bisa. Biasanya kita juga diberi insting/kemampuan menilai, apa mampu atau tidak. Jika tidak mampu dilepas, karena ga boleh terlalu membebani diri sendiri

    BalasHapus

Posting Komentar

Share opini atau pengalaman kamu tentang topik tulisan ini di sini. Share juga tulisan ini temen-temenmu, jika menurutmu bermanfaat.

&Joy!

[ADS] Bottom Ads

© 2021

prim.