Stop Bandingin Dirimu Dengan Orang Lain!

Saya yakin, kamu tahu betul tentang nasehat ini dan paham bahwa membanding-bandingkan dirimu dengan orang lain bukan kebiasaan yang perlu dilestarikan.

Pertanyaannya, kok masih tetap dilakukan?

Photo by Elle Hughes

Aneh kan? Udah tau membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain itu nggak baik, eh, kok masih aja dilakukan ya?

Buntutnya, kalau nggak pongah karena merasa lebih baik dari orang lain, ya berasa insecure melihat betapa hebatnya orang lain dibandingkan diri kita.

Hmm…kenapa ya, kok masih suka membanding-bandingkan hidup kita, pencapaian kita, pasangan kita, anak kita, dengan orang lain?

Mungkin, mungkin lho ya…itu adalah salah satu fitrah kita sebagai makhluk sosial kali ya.

Saya sendiri, juga sering membanding-bandingkan diri saya dengan orang lain. Dan berhubung saya ini mengidap inferiority complex kronis, saya cenderung memandang orang lain tuh, selalu lebih hebat daripada saya.

Bukan dalam konteks rendah hati lho, tapi rendah diri, alias merasa diri ini nggak ada apa-apanya dibandingkan orang lain.

Alhasil, saya jadi mudah merasa insecure dengan diri saya sendiri. Rasa-rasanya saya ini nggak adekuat dalam menjalani hidup dan peran saya.

Di rumah, saya sering merasa insecure melihat istri saya yang bisa menyelesaikan banyak hal dalam waktu yang singkat.

Di kantor, saya kerap kali merasa insecure meihat rekan kerja yang tampak begitu mudahnya menyelesaikan tugas-tugas yang ia terima. Sementara saya, untuk satu tugas sederhana saja, setengah mati struggle-nya.

Di kehidupan sosial, walaupun saya nggak pernah cangkrukan, tetapi melihat potret kehidupan teman-teman saya melalui media sosial, lagi-lagi membuat saya merasa insecure karena hidup saya nggak se-instagrammable mereka.

Kadang-kadang, saya merasa seperti monyet yang selalu terpukau melihat ikan yang begitu lihai berenang, hingga melupakan keahlian dalam memanjat pohon dengan cepat.

Ya, saya juga menyadari kalau saya pun punya kelebihan saya sendiri. Akan tetapi, somehow, kok rasanya kelebihan yang saya punya tuh nggak se-berguna kelebihan yang dimiliki orang lain ya. 

Bagaimana denganmu? 

Kenapa Suka Membanding-Bandingkan Dengan Orang Lain?

Beberapa waktu lalu, saya pernah menyimak replay webinar dari Productive Muslim tentang, kenapa beribadah di luar bulan Ramadhan tak sekhusyu saat Ramadhan.

Ada 3 hal yang menyebabkan, kekhusyu’an kita menurun dalam beribadah pasca bulan Ramadhan. 3 hal ini yang, kalau saya pikir-pikir lagi turut andil dalam membentuk kebiasaan saya membanding-bandingkan diri dengan orang lain.

Aspek Sosial

Walaupun yang namanya ibadah itu urusan masing-masing individu, tetapi jujur deh, waktu bulan Ramadhan itu rasanya lebih nikmat beribadah karena kita menyadari bahwa bukan kita yang menjalankan ibadah.

Bandingkan dengan momen ibadah di luar Ramadhan. Mau puasa senin-kamis aja rasanya aras-arasen.

Memang ada kalanya kalau sesuatu dilakukan bersama itu lebih asyik dan bersemangat. Ya nggak apa-apa, manusiawi kok.

Lalu apa hubungannya dengan kebiasaan membanding-bandingkan diri dengan orang lain?

Seperti halnya fitrah kita sebagai makhluk sosial yang ingin bersosialisasi. Ternyata tanpa sadar, saya utamanya, bersosialisasi tuh memiliki hidden agenda untuk melihat sehebat apa sih orang lain itu.

Serius. Walaupun hanya sesaat dan sekelebetan saja. Namun, pikiran itu tuh ada.

Belum lagi kalau diperkuat dengan orang lain yang senasib sepenanggungan yang juga mudah silau dengan pencapaian orang lain. Klop sudah. Semakin menguatkan pikiran bahwa orang lain lebih hebat, sementara saya, ya gini-gini aja.

Misery loves company, katanya.

Aspek Fisik

Coba kamu ingat-ingat lagi ya. Di momen seperti apa sih kamu sering merasa rendah diri lalu membanding-bandingkan dirimu dengan orang lain? Saat kondisi tubuhmu sedang di dalam puncaknya, atau ketika lelah setelah seharian dihajar kiri-kanan?

Saya sih, most of time, berasa seperti nggak berharga tuh ketika pulang kerja, apalagi pas di kantor masalahnya seabrek-abrek hingga benar-benar terkuras habis sudah, tenaga dan pikiran saya.

Nah, di saat seperti inilah, mulai tuh melihat-lihat betapa hijaunya rumput tetangga (makanya cari rumah jangan sebelahan sama stadion, udah pasti rumputnya lebih ijo royo-royo).

Aspek Spiritual

Nah, untuk yang satu ini, saya sering mengesampingkan dan menganggapnya tidak ada. Yaitu, godaan setan.

Beneran lho, mungkin beberapa dari kita menganggap penyebab perasaan insecure, minder dan rendah diri itu, murni dari sisi psikologis. Namun, lupa bahwa perasaan-perasaan ini adalah salah satu dari tipu muslihat setan untuk membuat kita meyakini dan mengimani bahwa kita adalah seburuk-buruknya makhluk yang tiada berguna.

Bukankah, kita sudah diingatkan bahwa setan itu adalah musuh yang nyata. Which means, kita perlu fully aware nih dengan godaan-godaan semacam ini.

Kenapa setan memengaruhi kita untuk percaya bahwa kita tak berharga? Ya, karena di mata setan, kita memang makhluk rendahan karena material penciptaannya dari tanah. 

Alhasil, karena perasaan rendah diri dan tak berdaya ini, kita jadi enggan untuk beribadah, berikhtiar dan berserah kepada-Nya. Istilahnya mager ya kalo ga salah, males gerak.

Karena males inilah, kita terdistraksi dari 2 tugas utama kita di muka bumi: beribadah kepada Allah dan mengelola sumber daya yang kita miliki di jalan Allah.

Padahal waktu terus berjalan.

Kesimpulan

Kita tahu bahwa kebiasaan membanding-bandingkan diri dengan orang lain bukan kebiasaan yang sehat. Namun, tak bisa dipungkiri, keinginan untuk ngelirik pencapaian orang lain itu akan selalu ada.

Karena itulah, kita perlu berikhtiar terus untuk tetap mindful, walaupun kondisi lingkungan sosial, fisik dan spiritual kita sedang tidak bisa diajak kompromi.

One thing for sure, kita perlu benar-benar meyakini bahwa kita adalah sebaik-baiknya ciptaan Allah SWT. Mulai bentuk fisik hingga akal pikiran.

Sekarang terserah masing-masing, mau percaya sama Allah bahwa kita adalah ciptaan-Nya yang terbaik, atau percaya dengan selain Allah yang terus menyuarakan di sanubari bahwa kita tuh nggak ada apa-apanya.

Yuk bijak memilih siapa yang mau kita dengar dan percayai.

10 komentar

  1. Hamoir di beberapa poin di atas saya rasakan Mas. Sering merasa insecure dengan apa yang dimiliki.

    Alhamdulillah, itu dulu.

    Sekarang sudah belajar memahami diri, mensyukuri apa yang telah dimiliki termasuk usaha yang telah dilakukan sendiri. 😊

    Pagi jumat jadi semangat baca postinganmu Mas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah kalau sekarang sudah nggak lagi pake acara insecure2an. Saya yang masih struggle nih. 😊

      Hapus
    2. Haha semangat mas. Seperti apa yang mas tulis. 😁✊

      Hapus
    3. Hahahha...iya 😅

      Hapus
  2. Kalau kita perhatikan, budaya ini memang sudah mengakar dari dulu, mayoritas orang tua sering membanding-bandingkan anaknya sendiri, ntah itu dengan kakak, adik atau dengan anak tetangga. Makanya setelah dewasa, kita terbiasa membandingkan diri dengan orang lain.

    Sebenarnya saat kita membandingkan diri dengan orang lain, tanpa disadari kita telah kufur nikmat.

    Tulisan yang bagus kak, mengingatkan tuk menghilangkan kebiasaan tersebut sekaligus menghindari kufur nikmat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih apresiasinya mbak, tulisan ini buat pengingat pribadi saya juga yang ternyata...sering kufur nikmat 😥

      Hapus
  3. Kalau saya melihat di orang lain membandingkannya lebih ke apa yang saat ini lagi berkembang dan mungkin bisa dimanfaatkan serta dikolaborasikan dengan apa yang saya bisa.. Kalau cuma berada di fase yang seperti itu-itu saja jadi tidak berkembang. .

    Orang-orang udah pake framework, kita masih pake native, kalau dibiarkan seperti itu terus jadi ketinggalan di dunia yang cepat sekali berubah ini.

    Yang penting membandingkannya tidak membuat insecure dan putus asa, karena kita tidak lebih baik dari mereka (mungkin).

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau lagi waras, saya juga mikirnya seperti itu mas. Lain story kalau stok kewarasan saya lagi menipis. Apalagi saya punya kecenderungan inferiority complex, yang bikin saya lebih mudah terpukau dengan kelebihan orang lain, sehingga melupakan kelebihan yang saya punya.

      Boro-boro mau kolaborasi, lah udah mengkeret duluan.

      Hapus
  4. ia dari kecil kadang kita tanpa sadar sering banget di bandingin dengan orang lain, dengan anak yg pintar, dengan kakak atau adik kita..

    kok kamu beda sih sama kk kamu, kok kamu gini, kok kamu gitu
    padahal setiap anak itu unik.. gk mestinya dibanding2in

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya itu salah satu faktor ya mas, cuma ya gimana...kan nggak bisa balik ke masa lalu untuk ngingetin ortu buat ga banding2in.

      Sekarang ya mau ga mau kudu bisa move on, walaupun kayanya sama2 tau kalau itu ga mudah.

      Ya kan.

      Hapus

Posting Komentar

Share opini atau pengalaman kamu tentang topik tulisan ini di sini. Share juga tulisan ini temen-temenmu, jika menurutmu bermanfaat.

&Joy!

[ADS] Bottom Ads

© 2021

prim.