Jangan Suka Nyusahin Diri Sendiri!

Jelang akhir pekan kali ini, kalimat yang sama terlontar dari 2 orang yang berbeda, ke saya.



PART I : DI KANTOR

Orang pertama yang mengucapkan kalimat tersebut adalah atasan saya. 

Waktu itu, Jumat sore, blio mengirimkan email menanyakan timeframe project yang blio tugaskan kepada saya. Jujur, waktu itu saya belum punya timeframe, ya walaupun saya tahu, yang namanya project, apa pun itu, perlu timeframe, biar nggak molor pas eksekusinya.

Ada timeframe aja masih bisa molor dan melar. Ndanio nggak ada ada timeframe-nya.

Singkat cerita, saya menyusun timeframe dengan memasukkan poin-poin project tersebut beserta rincian aktivitas yang harus dikerjakan dan tenggat waktunya.

Lalu, saya print dan tunjukkan ke atasan saya. Bukan dalam konteks menyerahkan timeframe, melainkan mendiskusikan format timeframe apakah sudah sesuai dengan yang blio harapkan atau tidak.

Dari situ, blio memberikan masukan untuk tidak menyertakan detil aktivitas saya dalam pengerjaan project tersebut. Dari sudut pandang blio, hal itu adalah urusan internal saya sendiri terkait cara saya mengelola pekerjaan saya.

Yang blio perlukan adalah, target project dan progress-nya per pekan. Selain itu, di dalam tugas tersebut, ada beberapa aktivitas yang perlu dilakukan seperti membuat draft awal, menyerahkan draft tersebut untuk diperiksa, melakukan revisi dan menyerahkan revisi untuk diperiksa ulang, hingga akhirnya draft disetujui dan bisa disosialisasikan.

Cukup njelimet ya?

Dari situ, atasan saya memberi masukan untuk membagi checkpoint aktivitas tersebut menjadi 3 : pembuatan draft, pemeriksaan draft, dan proses pengesahan.

Menurut blio, saat revisi, kan sama artinya prosesnya balik ke pembuatan draft. Jadi ngapain harus didetilkan sampai sebanyak itu. 

Sing simpel ae, ojo mempersulit awakmu dewe.” Begitu pesan blio mengakhiri sesi diskusi sore itu.

Hmm…baiklah. Lalu saya pun merevisi timeframe saya. Ya benar saja, tampak lebih sederhana dan to the point.

PART II : DI RUMAH

Akhir pekan ini, saya membantu Bio menyelesaikan tugas dari sekolah. Tugasnya adalah melakukan aktivitas memasak bersama keluarga.

Dan, setelah mikir-mikir mau masak apa, akhirnya pilihan pun jatuh tertimpa tangga pada membuat donat. Pertimbangannya, tampaknya menu ini merupakan menu yang sangat mudah dan sederhana. Nggak perlu effort dan skill tingkat dewa untuk bikinnya (pikir saya berdasarkan video-video di Youtube).

Ternyata, sungguh luck-nut sekali para pembuat donat di Youtube itu. Mereka membuat proses bikin donat tampak begitu mudahnya, tetapi kenyataannya, membuat donat sungguh proses yang menguras bahan dan juga saldo kewarasan saya.

Bagaimana tidak, semua langkah demi langkah saya ikuti, takaran pun saya nggak tambah-tambahin, lah kok, adonan saya tak se-kalis adonan mereka sih.

Ngembang sih, tapi pas diangkat, lah kok lengket semua di tangan. Nggak nurut seperti adonan ala-ala Youtube itu.

Karena frustasi dan kuciwa melihat kenyataan yang tak sejalan itu, tensi saya pun naik dan sensor OCD saya tiba-tiba menjadi sangat sensitif. Alhasil, setiap Bio melakukan hal-hal yang “tidak seharusnya” mata saya langsung melotot dan dilanjutkan dengan ngomel-ngomel tanpa memberi solusi, sekedar menyalurkan emosi hati.

Dan setelah beberapa kali seperti itu, Bio’s Mom pun akhirnya naik pitam. 

Menurutnya, saya tidak seharusnya semarah itu untuk hal-hal yang sepele. “Ya udah biarin aja kenapa, ngapain sih mempersulit diri sendiri ngurusin hal-hal sepele kaya gitu.”

Saya merengut, lalu diam membisu (alias nggondhok).

Namun setelah beberapa saat, Bio’s Mom, memanggil saya untuk sarapan (ya walaupun ketika itu jam dinding menunjukkan pukul 14.00, tapi karena belum makan dari pagi, ya tetep aja namanya sarapan, ya kan?).

Selepas sarapan, saya mulai bisa berpikir sedikit tidak keruh. Mungkin saya too much dalam merespon ‘ketidaksesuaian’ yang dilakukan Bio. Ya, memang dia tidak melakukan hal benar, tapi come on, nggak se-urgen itu juga kali sampai harus diomeli.

Mana ngomel-ngomelnya juga nggak membangun. Mending kritik, membangun, lah ini, udah nggak nyelesaiin masalah, yang ada malah bikin masalah baru.

Hmm…mungkin karena lelah. Eh, tapi nggak juga sih, lah wong bolak-balik kaya gini. Sepertinya, bukan karena lelah semata.

PART III : REFLEKSI (TAPI BUKAN PIJAT)

Katanya, nama adalah doa. Di dalam sebuah nama, terkandung doa penuh makna agar si orang tersebut dapat menghidupi makna dari nama yang ia punya.

Sebelum blog ini berganti nama menjadi prim.my.id, nama blog ini adalah simpleprima.blogspot.com. Alasan saya memilih nama simpleprima ketika itu bukan karena saya adalah manusia paling simpel di muka bumi, as a matter of fact, saya bahkan mungkin manusia paling ruwet yang pernah ada.

Karena itu, dengan mengusung nama simpleprima, harapannya bisa kebawa ke diri saya sendiri untuk menjadi orang yang lebih simpel dalam menjalani hari. Ya di kantor, di rumah, bahkan…ngeblog.

Namun, saya mengurungkan niat tersebut, karena rasanya kok kabotan jeneng. Akhirnya saya memilih nama prim, dengan tetap mengedepankan doa dan harapan untuk menjadi orang yang simpel, aammiin. 

Lagi pula prim, lebih simple daripada simpleprima, menurut saya. Ya nggak sih?

Tadinya sih, nama PRIM juga mau saya terapkan untuk akun-akun media sosial saya, tapi ditolak, karena namanya terlalu pendek (mungkin). Jadi, hanya blog ini saja yang menggunakan nama PRIM.

Namun, tampaknya, doa tersebut masih dalam proses pengerjaan. Jadi, sampai sekarang saya masih belum as simple as I expect to become, dan masih suka menyiksa diri sendiri dengan membuat hal-hal mudah menjadi rumit, alih-alih menyederhanakannya.

KESIMPULAN

Walaupun saya belum menjadi se-simpel yang saya harapkan, tetapi dari kejadian ini, saya belajar bahwa salah satu cara menjadi simpel adalah mengurangi proses-proses/aktivitas yang nyusahin diri sendiri, atau unfaedah.

Saya jadi inget nasehat super seorang motivator yang dulu kerap nongol di layar TV:

Kalau kamu terus-terusan ngurusin hal kecil, kapan kamu punya waktu untuk ngurusin yang besar.

Yang saya artikan, kalau saya mau mendapat kepercayaan untuk sesuatu yang lebih besar, maka saya harus mengurangi waktu dan tenaga untuk mengurusi hal-hal kecil unfaedah yang tidak menambah nilai bagi saya dan tugas yang saya selesaikan.

Tampaknya, saya perlu belajar untuk menjadi lebih bijaksana di dalam mengalokasikan waktu, tenaga dan pikiran saya untuk hal-hal yang lebih penting dan esensial, dibandingkan hal-hal kecil yang menyusahkan diri saya sendiri. 

Tidak ada yang salah dengan memperhatikan detil kecil, tetapi yang jadi masalah adalah saat fokus akan detil itu membuat kita terjebak di dalamnya sehingga gagal melihat gambar besarnya.

12 komentar

  1. Memperumit hal yg sederhana, ini saya banget mas. Dan, seperti yg mas prima sebutkan, bahwa terlalu mengurusi hal kecil itu membuat kita lupa dengan hal global. Ini nih masih jadi pr saya juga untuk lebih mengerahkan perhatian pada hal yg lebih esensial. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Idem mbak. Seringkali ketika sudah asyik ngerjain sesuatu tuh bawaanya pengen everything serba perfect sehingga tanpa sadar nambah2in ini dan itu dan in the end meruwetkan diri sendiri.

      Ini juga masih PR buat saya. Moga2 segera kelar ya PRnya ini.

      Hapus
  2. Sepakat ah sama mas Prim, Jangan nyusahin diri sendiri dan juga jangan nyusahin orang lain, ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha...don't until lah kalo itu mas. Nyusahin diri sendiri aja udah susah nyelesaiinnya, ndanio ditambah nyusahin orang lain.

      Dilempar pake batu bata tar wkwwkwk.

      Hapus
  3. Saat memecahkan soal bahasa Inggris kalau itu, aku pun dibilangin gt sama tutornya. Aku muter muter cocoklogi rumus sampai kemana mana ternyata jawabannya tinggal hapus sana sini aja.

    Tapi awalnya kan kita nggak sadar mas prim kalau itu bakal menyusahkan. Wkwk,

    btw aku jg ga pernh berhasil bikin donat pdhl udah nonton video yg judulnya sungguh click bait tapi marai nesu akhirnya 🤣

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena udah kadung ruwet sendiri, akhirnya yang di depan mata nggak keliatan dan nggak kecandak hehehe... .

      Sumpah, bikin donat itu benar2 ujian kewarasan kok.

      Hapus
  4. Akupun nyerah kok mas bikin donat 🤣. Ga kalis2, sebagai anak pengusaha bakery, sebenernya aku malu ini hahahahah. Itu baru donat, belum bikin roti :D.

    Naaah aku sbnrnya tipe yg sangat memperhatikan detil. Kadang suami suka ngomong juga, yang penting hasilnya, ga usah pusing Ama hal2 ga penting . Kadang bener sih, toh dengan sangat memperhatikan detil, yg mumet aku sendiri -_- .

    Tapi kdg susah kan , utk ga peduli Ama hal2 kecilnya . Mungkin Krn udah terbiasa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, walaupun nggak pengen merhatiin, tapi apa daya...mata udah terlanjur di-setting bisa ngeliat yang kecil2 gitu e, akhirnya kan jadi sensi sih.

      Sudah cukup tentang donat, mari kita bahas yang lain aja wkwkwkwk.

      Hapus
  5. Hihi azab orang perfeksionis nih, saya banget soalnya. Padahal sebenernya gampang dan cepet dikerjain, tapi suka ngerasa ada yg kurang kalau ga diribetin dulu.

    Domain my.id emang masih banyak stok nama available ya, saya juga ngambil banyak buat ternak blog.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha...iya, padahal ya setelah diperfeksionisin ya hasilnya ga perfect2 amat juga. Tambah ruwet iya.

      Saya masih belum ngeh sama yang namanya ternak blog itu. Lah saya punya 1 aja setengah hidup nghidupinnya.

      Hapus
  6. Hal kecil sebenarnya penting kalau buat saya, namun harus diselaraskan dengan waktu yang ada.
    Karena hal besar bisa terselesaikan kalau hal kecil udah kebentuk.

    Ini saya ngomongin duit deh kayaknya, duit besar ada kalau ada duit kecil hahaha

    Btw, saya shock dibilang donat adalah yang simple, wakakaka.
    Saya nggak suka ngedapur, tapi setelah punya anak, jadi maksain ke dapur, masak ini itu, hanya 1 yang belum pernah saya coba, bikin donat.

    Membayangkan nunggu adonannya mengembang, ngadonnya biar kalis, udah pengen order Jco duluan rasanya hahahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ee...bayangannya sih 11/12 sama pancake cuma lebih kentel aja adonannya. Ternyata eh ternyata....hmm, baiklah kita ngomongin yang lain aja deh.

      Hapus

Posting Komentar

Share opini atau pengalaman kamu tentang topik tulisan ini di sini. Share juga tulisan ini temen-temenmu, jika menurutmu bermanfaat.

&Joy!

[ADS] Bottom Ads

© 2021

prim.