7 Langkah Pengambilan Keputusan Yang Kamu Perlu Tahu


Dalam hidup kita tak akan pernah luput dari membuat keputusan demi keputusan. Setiap keputusan yang kita buat saat ini membentuk kehidupan kita selanjutnya.

Sekali pun kita percaya akan qadarullah, tapi akan selalu ada bisikan 'mengganggu' di dalam sanubari yang mengatakan, "Seandainya...".

Seandainya aku mulai lebih awal...
Seandainya aku dengerin nasehat mereka...
Seandainya aku ga temenan sama mereka...
Seandainya aku menjaga fokusku...
Dan banyak lagi.

Familiar?

Saya sering merasakan seperti ini, terlebih ketika 'terjebak' dalam sebuah situasi yang tidak menyenangkan. Berandai-andai bahwa situasi buruk itu tak akan saya alami 'kalau saja' saya tidak salah membuat keputusan.

Tak jarang, begitu membekasnya perasaan tidak nyaman akibat salah membuat keputusan itu membuat saya tak ubahnya seperti frozen food, kaku ga bisa gerak.

Akibatnya, saya jadi suka menunda, menghindar dan bahkan emoh-emoh untuk membuat keputusan. Berharap ada orang lain yang mutusin dan saya tinggal follow.

Lucu ya? 

Jebakan Penghambat Pengambilan Keputusan


Menunda dan menghindari situasi yang mengharuskan kita mengambil keputusan itu, seringkali terjadi karena tanpa sadar kita terperosok dalam salah satu dari 3 jebakan penghambat pengambilan keputusan berikut ini:

1. Jebakan Kebiasaan

Mengambil keputusan itu bisa sangat sulit dan stressful. Sayangnya, saat seseorang stres dan berada di bawah tekanan, mereka seringkali sulit melakukan satu hal yang perlu dilakukan : berpikir di luar kebiasaan.

Kita jatuh ke dalam kebiasaan lama karena kita tidak mau mengacaukan segalanya. Udah biarin aja semua seperti apa adanya, nggak usah neko-neko.

Ketakutan luar biasa untuk meninggalkan zona nyaman adalah alasan utama di balik keengganan mengambil keputusan, menunda dan/atau stagnansi.

2. Jebakan Terlalu Banyak Pilihan

Too much love will kill you if you can't make up your mind - Queen

Apa yang terjadi ketika kamu melempar ide bukber di grup alumni? Serentak berhamburan ide-ide lokasi bukber terbaik, jadwal bukber dan pada akhirnya...batal karena si A jadwalnya nggak cocok lah, si B kucingnya sakit lah, dll.

Namun, karena 'pantang menyerah' rencana bukber diganti jadi rencana halal bihalal...dengan pola yang sama. Tau-tau udah Idul Adha.

Terlalu banyak pilihan membuat otak kita paralyzed. Karena kita takut, bila memilih A, maka nanti 'kehilangan kesempatan' memilih yang lebih baik.

Semakin banyak opsi, makin mudah kita merasa menyesal terhadap pilihan yang kita buat.

3. Jebakan Perfeksionisme

Kesempurnaan menghambat tindakan

Sering kali saya menunda untuk memilih dan mengambil keputusan karena saya mau semuanya serba sempurna 100%, dari awal hingga akhir.

Saya akan sabar menunggu hingga segalanya perfecto. Hingga tanpa sadar, saya ternyata sudah menunda terlalu lama untuk sesuatu yang harusnya tak selama itu.

7 Rahasia Di Balik Keputusan Yang Baik


Kalau boleh jujur, sebenarnya ada kah yang namanya perfect decision itu? Karena sejauh yang saya tahu, setiap orang itu berbeda dan memang harusnya begitu.

Ada yang rasional, ada pula yang emosional. Namun, 7 hal ini yang umumnya mendasari sebuah keputusan yang baik menurut Lily S Mohsen :

1. Sadar Bedanya Reaksi & Keputusan

Proses membuat keputusan itu, apalagi keputusan penting, adalah proses yang melelahkan dan stressful. Karena itulah, jangan biarkan emosimu mengaburkan visimu.

Belajar untuk berhenti sejenak dan ambil waktu yang kita perlukan untuk memutuskan pilihan kita.

2. Memilih Dengan Mengeliminasi

Saat dihadapkan dengan begitu banyak pilihan, kurangi opsi hingga menjadi top three yang paling masuk akal buatmu.

Realistis itu baik, tapi kreatif itu lebih baik. Jadi cobalah untuk memilih satu opsi 'waras' yang kamu belum pernah coba sebelumnya.

3. Ikuti Firasatmu

JANGAN ikuti hatimu saat membuat keputusan penting. Hati bisa menjadi sangat tolol, apalagi ketika dibutakan oleh cinta, amarah atau takut.

Membiarkan si buta menyetir bisa jadi merupakan keputusan terburuk yang kamu pernah lakukan.

Otak kita menggunakan kombinasi logika dan emosi saat membuat keputusan, yang disebut intuisi atau firasat. Ikutilah firasatmu.

4. Berkonsultasi Dengan Yang Ahli

Bertanyalah pada orang yang sudah pernah melakukan apa yang mau kamu lakukan.

Memilih jadi full time blogger? Tanya pada yang sudah menjalaninya seperti Mbak Rey atau Mas Rudi Aswan.

Mau jadi food blogger? Tanya sama yang sudah melakukanya seperti Mbak Vicky.

Jack Ma, di sebuah seminar pernah menyarankan bila kita belajar dari kisah sukses seseorang, pelajarilah kesalahan dan kegagalan yang mereka lakukan dan bagaimana mereka menghadapinya.

Orang cerdas belajar dari kesalahan mereka, sedangkan orang bijak, belajar dari kesalahan orang lain.

5. Lihat Gambar Besarnya

Apa sih yang penting buat kamu? Value apa sih yang kamu pegang?

Keputusan besar yang tak memiliki makna tidak akan membawamu pergi jauh. Tambahkan tujuan positif dalam tiap keputusanmu.

6. Minta Petunjuk-Nya

Libatkan Allah SWT dalam setiap langkahmu. Selalu ingat bahwa sukses dan gagalmu, semua terjadi hanya atas izin-Nya. Lagi pula, kita mah apa dibanding Allah Yang Maha Mengetahui?

7. Implementasikan

Cara terbaik melakukan pengambilan keputusan adalah dengan melakukannya. Jangan nunda, karena semakin ditunda, semakin ruwet tar.

Salah atau benar, ketika kamu sudah ambil keputusan, jangan pernah menyesalinya. Lakukan ikhtiar terbaikmu dan serahkan hasilnya kepada Allah SWT.

Sometimes we earn, sometimes we learn

Penutup


Walaupun mendapat segalanya itu mungkin, tidaklah mungkin mendapat segalanya.

Kebebasan memilih memang menyenangkan, tetapi punya terlalu banyak kebebasan dan pilihan pada dasarnya melumpuhkan dan mengekang.

Tiap hari pada dasarnya merupakan kesempatan untuk mengubah kita menjadi orang yang lebih baik dan muslim yang lebih baik.

Buat keputusan itu dan berpegang teguhlah pada keputusan tersebut...setiap hari.

Pertanyaan untukmu. Pernahkah kamu salah memilih yang pada akhirnya membawamu ke tempat yang tepat? Dan, apa sih kesalahan yang memberimu pelajaran tak terlupakan sepanjang hidupmu?

Yuk share dan belajar bersama.

13 komentar

  1. Aku paling sering kena jebakan perfectionisme. Pengennya seisi rumah itu rapih dan simetris, kerjaan semua teratasi, to-do-list juga kelar 100%. Kupikir itu positif, jadi kubiarkan saja.

    Ternyata oh ternyata, lebih banyak negatifnya daripada positifnya. Perfeksionis itu bikin kita jadi gampang down dan kena stress. Dan kalo didiemin bisa berkembang jadi Obsessive Compulsive Disorder.

    Untung waktu itu sempet konsultasi ama psikolog. Alhamdulillah, sekarang tetep ngerjain segala sesuatu dengan rapih dan produktif tapi tetap di koridornya. Jadi ga sampe berlebihan, apalagi bikin stress :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sampai konsultasi ke psikolog ya mas. Hmm...syukurlah kalau setelah dari psikolog sudah bisa improve ya.

      Saya juga perfeksionis kronis. Maunya tuh everything smooth dari awal sampai akhir. Ketika kesandung di tengah jalan, yang ada malah feeling hopeless, lalu mulai deh skenario seandainya keluar.

      Ingin menggapai kesempurnaan itu memang wajar, tapi kita juga perlu menerima bahwa kesempurnaan hanyalah milik-Nya semata.

      Hapus
  2. Sering kali terjadi tuh diriku mengatakan seandainya... seandainya... terus-menerus. Tapi memang firasat itu ada benarnya, bahkan dari firasat itu kita sudah tau resiko apa yang mungkin akan terjadi setelahnya dibandingkan mengikuti kata hati dan hanya berada di zona nyaman dan tidak mendapatkan apa-apa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga masih belajar untuk menerima masa lalu as part of my learning process. Bukan hal mudah mengingat godaan untuk berandai-andai selalu muncul.

      Hapus
  3. setujuu, kalau hati udah kena cinta buta, mau mikir aja susah bener kadang.
    kadang kalau pilihan yang diambil nggak sesuai harapan, yang disalahin diri sendiri. memang kudu belajar berbesar hati juga dengan pilihan yang diambil

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak. Kadang-kadang tanpa kita sadari, kita tuh terlalu terobsesi dengan kesempurnaan. Maunya semua lancar dari awal hingga akhir, lalu guilty feeling ketika tersandung masalah di tengah perjalanan.

      Berandai-andai, kalau saja tadi ... pasti aku .... .

      Padahal, kalau pun sebelumnya nggak melakukan kesalahan atau tidak menemui masalah, belum tentu juga endingnya happy. Could be worse.

      Hapus
  4. terlalu banyak pilihan dan opsi itu emang jebakan bangetttt. bikin kita susah mau eksekusi. emang paling benar adalah kita lihat dulu gambaran besarnya. nanti bakal muncul sendiri kok keputusan yang baik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mbak. Semoga kita dimudahkan untuk bisa melihat bigger picture-nya ya.

      Hapus
  5. Gunakan firasat.

    Nah lho.

    Ya ampun pas baca yang bagian terlalu banyak pilihan. Ngakak dong secara kejadian begitu tuh nyata banget. Mending dadakan deh biar jadi.

    BalasHapus
  6. setuju mas kombinasi logika dan emosi saat membuat keputusan itu yang biasa aku pake apalagi kalau aku dihadapkan dengan situasi genting yang butuh keputusanku saat itu juga..

    BalasHapus
  7. I feel alot ini mah. Kadang suka nunda-nunda untuk memutuskan sesuatu. Merasa akan ada sesuatu yang lebih baik. Padahal ya, belum tentu yang terjadi nanti itu bagus. Jadinya menyesal. Kok nggak dari tadi aja.

    BalasHapus
  8. Relate banget Kak apalagi jebakan perfeksionis. Sempurna memang baik tetapi melampaui batas tidak baik. Apalagi menunda-nunda tugas duhh banyak pr banget ini. Thank you Kak.

    BalasHapus
  9. Merasa pernah banget salah langkah. Tapi aku selalu meyakinkan diriku bahwa keputusan yang aku ambil adalah bagian dari takdir.
    Ini sangat membantuku memahami kalau-kalau terjadi hal yang mengecewakan. Sehingga dari sini, aku bakalan lebih cepat bangkit dan melupakan kejadian yang gak mengenakkan untuk kembali berjalan bahkan berlari menggapai goalsku.

    BalasHapus

Posting Komentar

Share opini atau pengalaman kamu tentang topik tulisan ini di sini. Share juga tulisan ini temen-temenmu, jika menurutmu bermanfaat.

&Joy!

[ADS] Bottom Ads

© 2021

prim.