Jangan Cuma Rajin Bayar Premi, Yuk Melek Asuransi

Seiring dengan kemajuan informasi dan teknologi, orang yang dulunya anti asuransi, kini sudah mulai mau terbuka dengan asuransi. Apalagi dengan adanya pandemi.

Karolina Grabowska

Namun, tahukah kamu, punya asuransi saja tidak menjamin hidupmu lebih tenang seperti yang digembar-gemborkan di dalam iklan-iklan produk asuransi.

Serius!!

Karena percuma kamu punya asuransi, bayar premi tinggi, tapi kamu nggak tahu isi polis asuransi yang kamu punya.

Memangnya sepenting apa memahami isi polis asuransi kita? Kan yang penting kita kenal baik sama si agen asuransi itu, dan percaya kalau ada apa-apa, pasti dibantu lah.

Apalagi kalau si agen asuransi itu saudara sendiri. Masa iya sih ditinggal lari?

Hmm…ya, kalau kita mau melihat kemungkinan terburuknya, berdasarkan kasus-kasus yang udah-udah, ada lho kemungkinan si agen asuransi itu tidak melakukan pekerjaannya secara profesional.

Penuh janji surgawi, eh tapi giliran dicari terkait asuransi, malah sulit dihubungi.

Pernah ngalamin atau punya teman, saudara yang mengalami hal seperti ini? Ibarat kata, sudah jatuh tertimpa tangga. Kena musibah dan harus perawatan di rumah sakit, dengan penuh percaya diri pasti semua biaya ditanggung, eh kok ujung-ujungnya, klaim ditolak.

Terus si agen yang kita percaya adalah orang baik-baik yang nggak mungkin lah nipu, eh hilang bagai ditelan Godzilla. Sedih nggak tuh?

Eh sebentar, kan nggak semua agen asuransi seperti itu. Kalau ada yang kaya gitu tuh biasanya oknum. Hmm…baiklah, ya sudah mari kita hentikan sejenak prasangka buruk kita terhadap agen asuransi berkedok oknum (eh, kebalik ya) ini.

Sekarang kita anggap semua agen asuransi itu baik dan profesional. Jadi mereka akan membantu kita ketika musibah datang menghampiri.

Tapi…

Agen asuransi itu kan juga manusia biasa yang nggak lepas dari risiko. Entah itu sakit hingga meninggal dunia. Terus, kalau misalnya si agen itu ternyata nggak bisa bantu (bukan nggak mau bantu ya) saat kita tertimpa musibah, dan kok ya apesnya, proses klaim asuransi kita bermasalah…terus gimana dong?

Ujung-ujungnya kapok sama asuransi dan nggak mau lagi asuransi-asuransi-an. Terus kalau musibah gelombang berikutnya datang lagi, siapa yang rugi kalau seperti itu?

Perusahaan asuransinya? Agen asuransinya? Kucing oren tetangga?

Ya pastinya kita sendiri yang rugi karena harus menanggung semua beban itu dengan biaya sendiri. Itu juga kalau masih ada yang bisa dipakai.

“Ngapain sih khawatir sama masa depan, masa depan itu lho sudah ada yang ngatur,” katanya.

Betul, tapi mengupayakan yang terbaik kan juga tugas kita sebagai manusia. Pun demikian dengan menyiapkan diri menghadapi segala ketidakpastian hidup.

Karena ketidakpastian adalah satu-satunya kepastian di dalam hidup ini.

Risiko Di Dalam Kehidupan

Sejatinya hidup itu penuh dengan risiko. Itu kabar buruk sekaligus kabar buruknya. Melakukan aktivitas di luar rumah, ada risiko, #dirumahaja juga ada risiko (minimal risiko program diet berantakan karena dikit-dikit makan, padahal harusnya makan dikit-dikit). 

Walaupun risiko itu seringnya nggak bisa dihindari, tapi bisa dikelola, namanya manajemen risiko. Nah, asuransi adalah salah satu cara dalam mengelola risiko, dengan cara mengalihkan risiko tersebut kepada pihak ketiga, yakni perusahaan asuransi.

Dalam kaitannya dengan asuransi, biasanya risiko itu kalau nggak risiko kehilangan aset, kehilangan kesehatan, ya kehilangan jiwa.

Pengalaman dulu, waktu masih jadi agen asuransi, orang tuh kalau ditawarin asuransi, yang pertama dipikir langsung, “Hmm…kamu ngedoain aku mati ya?”

Sedih kan? Nawarin baik-baik, eh dikira yang nggak baik-baik. Padahal didoain atau pun nggak, kalau waktunya berangkat, ya udah berangkat aja. 

Nah, supaya obrolan kita sedikit lebih nyaman, kita nggak usah ngomongin soal mati dulu deh. Kita ngomong tentang risiko kesehatan aja. 

Asuransi Kesehatan : Apa & Kenapa Perlu Punya?

Asuransi kesehatan merupakan produk asuransi yang menanggung biaya pengobatan hingga perawatan medis lainnya jika tertanggung jatuh sakit.


Artinya, proteksi yang tercakup di dalam produk asuransi kesehatan adalah proteksi terhadap biaya-biaya yang timbul ketika tertanggung terkena risiko kesehatan (misalnya, rawat inap, rawat jalan, operasi, dll.)

Secara umum, manfaat asuransi kesehatan terbagi menjadi 2 jenis manfaat:
  1. Manfaat dasar, adalah pertanggungan utama yang secara otomatis akan kita dapatkan ketika kita bergabung menjadi nasabah asuransi, meliputi rawat inap, pembedahan dan rawat jalan. 
  2. Manfaat tambahan, atau biasa disebut rider merupakan perluasan perlindungan yang bisa disesuaikan sesuai kebutuhan dan tentunya dengan biaya tambahan. Manfaat-manfaat seperti pemeriksaan medis (MCU), persalinan, perawatan gigi dan mata.


Kenapa sih perlu punya asuransi kesehatan? 

Pandemi telah mengajarkan kita betapa kesehatan merupakan harta yang sangat berharga. Kalau nggak sehat, nggak hanya kita yang susah, bahkan keluarga pun ikutan susah, ditambah nggak ada biaya untuk menjalani perawatan kesehatan yang layak. Susahnya berlipat-lipat jadinya.

Dengan memiliki asuransi kesehatan yang sesuai, setidaknya berkurang satu masalah saat tertimpa musibah…masalah finansial.

Ah, Punya Asuransi Juga Percuma

Eh bentar-bentar, nggak salah  nih? Katanya tadi kalau punya asuransi kesehatan, kita bisa bebas dari masalah biaya pengobatan?

Iya dan tidak.

Iya, punya asuransi kesehatan bisa membebaskan dari masalah biaya perawatan dan pengobatan. Tidak, kalau asuransi kesehatanmu bukan asuransi kesehatan seperti yang kamu bayangkan.

Nah loh, maksudnya apa nih? Hehehe…tambah bingung? Selamat, memang sudah seharusnya kamu bingung.

Ingat, pelajari sebelum beli. Pahami isi baru tanda tangan. Pastikan apa persepsi kamu itu sudah benar. Jangan sampai, udah PD setengah sepenuh hati pasti terproteksi, eh taunya zonk.

Beli asuransi itu harus mau ribet. Sekarang tinggal pilih, mau ribet di depan apa di belakang?

Kalau kamu pilih ribet di depan, artinya kamu harus luangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk mempelajari dan membandingkan tiap-tiap penawaran asuransi yang kamu terima. 

Proses ini memang melelahkan, tapi tidak lebih mengecewakan dibandingkan kalau kamu memilih untuk ribet di belakang. Klaim ditolak karena masuk di dalam pengecualian polis.

Teliti Sebelum Beli Asuransi

Buat kamu yang saat ini sedang didempetin sama temen kamu yang jadi agen asuransi atau lagi cari-cari asuransi sendiri secara daring, periksa dan pahami betul-betul 4 hal berikut ini sebelum kamu memutuskan membeli asuransi:
  1. Informasi-informasi penting seperti klausul pengecualian, mekanisme ganti rugi, limit proteksi, masa berlaku asuransi.
  2. Gunakan free look period 14 hari dan jangan sungkan untuk merevisi atau bahkan membatalkan pembelian polis, kalau menurutmu manfaat yang ditawarkan nggak sesuai dengan kebutuhanmu.
  3. Pahami kebutuhanmu sendiri, asuransi itu barang pribadi, jadi jangan ambil manfaat yang kamu nggak perlu hanya karena si Anu dan si Inu ambil manfaat itu.
  4. Bandingkan polis dari beberapa perusahaan asuransi termasuk harga preminya.


Mendapatkan Premi Murah

Biaya premi itu sudah diatur oleh si perusahaan asuransi dengan mempertimbangkan tingkat risiko kamu, si nasabah. 

Namun, ada caranya supaya kamu bisa mendapatkan premi yang terjangkau dengan tetap mendapatkan manfaat proteksi maksimal.

Berikut ini tips untuk mendapatkan premi murah dalam bentuk infografis yang semoga, mudah dipahami.


Tata Cara Pengajuan Klaim

Dalam hal tata cara pengajuan klaim asuransi kesehatan, tiap perusahaan asuransi memiliki aturan sendiri, tetapi secara umum klaim asuransi itu dibagi jadi 2 : cashless dan reimbursement.

Metode cashless itu biasanya dilakukan dengan menggesek kartu asuransi ketika mengurus proses administrasi pendaftaran di rumah sakit. Mirip seperti gesek kartu debit. 

Sedangkan reimbursement, klaim dilakukan dengan cara si tertanggung membayar dahulu biaya-biaya perawatan dan pengobatannya, lalu mengirimkan tagihannya ke perusahaan asuransi untuk dilakukan proses klaim.


Supaya proses klaim reimbursement-mu berjalan lancar, pastikan kamu menyiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan. Apa saja dokumen yang perlu disiapkan?
  • Polis asli
  • Formulir klaim yang terisi lengkap dan benar
  • Bukti general check-up
  • Surat keterangan dokter
  • Hasil laboratorium dan/atau radiologi
  • Kwitansi rumah sakit asli
  • Surat keterangan polisi apabila dirawat karena kecelakaan
Biasanya saya selalu men-scan dokumen tersebut untuk saya simpan sendiri. Ya, jaga-jaga untuk kemungkinan terburuk sih, karena biasanya perusahaan asuransi meminta dokumen aslinya.


Kesimpulan

Asuransi itu adalah produk yang unik, dibeli tapi nggak beharap untuk dipakai. Ya nggak sih? 

Ada nggak yang masih berpikiran, kalau punya asuransi terus nggak pernah dipakai = rugi? Pertanyaannya, kira-kira nih, kalau kamu dalam kondisi ’memakai asuransi’ itu kamu dalam kondisi seperti apa coba?

Sakit kan? 

Selain itu, membeli asuransi itu adalah sebuah proses yang ribet. Tinggal pilih, mau ribet di depan dengan teliti sebelum membeli, banding-bandingin manfaat + premi antara asuransi yang satu dengan lainnya, membaca dan memahami isi polis, hingga melawan rasa sungkan menolak tawaran asuransi yang nggak sesuai kebutuhan gara-gara yang nawarin saudara atau teman sendiri.

Atau, opsi keduanya…mau ribet di belakang. Beli asuransi nggak pakai dipikir, yang penting preminya murah, tapi, waktu proses klaim, ribetnya minta ampun.

Boleh nggak tahu, tapi jangan nggak mau tahu. Karena nanti yang rugi ya kamu sendiri (nggak jarang, keluarga juga kena imbasnya).

Biar kamu nggak salah pilih produk asuransi, bandingkan dulu deh polis dari masing-masing perusahaan asuransi secara online.

Punya opini atau pengalaman tentang asuransi kesehatan? Yuk share ceritamu di kolom komentar, biar bisa sama-sama belajar.

44 komentar

  1. Betul mas Prim, menurut saya asuransi kesehatan sangat penting untuk dimiliki, meski berharap nggak perlu kita gunakan 😁

    Buat saya, asuransi itu proteksi, dan setuju sama poin mas Prim di atas, yang acapkali terlupakan adalah proses mempelajari terlebih dahulu polis calon asuransi yang kita inginkan. Karena kebanyakan pakai rasa percaya pada agen, alhasil ketika sakit, kebingungan. Menurut saya, mau agennya orang terdekat sekali pun, tetap harus tau isi polis dan hak-hak apa yang bisa kita dapat. Biar fungsi asuransi yang kita beli bisa maksimal 😆

    Thank you for sharing, mas 🥳

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju mbak Eno. Memang sebagai pemilik polis, wajib hukumnya memahami isi polisnya, mastiin persepsi terhadap klausul-klausul dalam polis tuh sudah benar.

      Ya tau sendiri lah, bahasa-bahasa hukum seperti yg ada di polis kan suka multi interpretasi.

      Hapus
  2. Makanya aku heran kenapa ada orang yg ga percaya Ama asuransi, dan menganggab itu hal buang2 duit doang, yg manfaatnya cuma bisa dinikmati ahli waris -_-. Ada loooh temen dan saudaraku yg berpikiran gitu.

    Sampe pernah nih mas, pas aku mau beli asuransi mobil, dibilang gini Ama dia, 'aku sih ga mau beli asuransi mobil. Mendingan uang preminya buat sedekah supaya dilindungi Allah selalu' 🙄😏

    Jiwa julidku langsung naik dong dengernya.. wooy, sedekah mah sedekah aja. Ga usah ngarep imbalan bakal begini bakal begitu. Ikhlas ga sih situ ngeluarin sedekah... kok kayaknya pamrih minta perlindungan asal udah sedekah.

    Aku mah mikirnya, nasib orang kan ga ada yg tahu yaaa. Orang baik aja masih bisa kena musibah. Lah dengan punya asuransi, setidaknya nih 1 pikiran dalam kepala udh teratasi. Ga pusing kalo kejadian.

    Tapi memang sebagai pemegang polis ya kita harus tahulah terms and condition itu polis sebelum tandatangan. Kalo ternyata ga sesuai Ama keinginan, salah sendiri kenapa ga tanya dengan jelas pas di awal 😁. Kayak asuransi jiwa tuh ada UP nya. Tapi aku yakin banyak orang ga baca kalo UP itu hanya bisa diklaim dlm BTS waktu tertentu, misalnya dalam waktu sebulan atau 3 bulan setelah orangnya meninggal. Lewat dari itu ya bhaaay... Itu ada di klausul.

    So, kita sebagai user juga kasih tahu Ama keluarga tiap kali beli polis asuransi. Jangan sampe niiih, ahli warisnya ga sadar kalo si A punya asuransi jiwa misalnya. Ga usah diumpetin deh kalo beli2 asuransi.



    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah ini aku ngalamin mbak, pas mbakku nggak ada. Kita serumah ga ada yang tau polis asji dia simpen di mana.

      Alhamdulillah ibu berhasil nemuin.

      Dan soal memahami isi polis itu, rasanya wajib lah ya. Ya memang sih ribet harus baca satu satu, tapi masalahnya pilihan berikutnya lebih mengerikan e, klaim tak terbayar gegara masuk pengecualian.

      Even untuk orang tajir pun, kan wasting money juga toh kaya gini tuh.

      Hapus
  3. dulu waktu lagi akad KPR pernah sekalian daftar asuransi jiwa. saya mah iya iya aja, taunya gak ngerti apa - apa tentang manfaat yang didapat. mana autodebet pula, jadi ribet urus pembatalan nya deh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau KPR bukannya otomatis pasti dapat asji ya mas? Bagian tak terpisahkan bukan?

      Ya memang ribet sih harus mbacain satu satu isi polis, tapi dibandingkan klaim ga terbayar hayo.

      Hapus
  4. Setuju banget, asuransi itu emang perlu banget tapi kita juga harus perlu banget mempelajari tentang asuransi itu karena kalau tiba-tiba kita membutuhkan dan tidak bisa dicairkan segera maka kan kita juga yang sulit sendiri.

    Makanya menurutku emang kalau mau menentukan asuransi tuh harus banyak-banyak riset ke segala jenis perusahaan asuransi, apalagi sekarang kan banyak banget ya. Supaya tidak menyesal di kemudian hari nih soalnya, meskipun berharap banget sih gak akan perlu dipake ya asuransi yang kita punya ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, aneh toh ya...beli tapi nggak mau dipakai hahaha.

      Ya memang itu tanggung jawab si pemilik polis untuk teliti sebelum membeli. Jangan sampai karena sungkan sama yang nawarin akhirnya iya iya aja, tapi pas butuh, klaimnya ruwet.

      Hapus
  5. Saya sepakat sekali dengan ulasan artikel di atas, kita memang harus melek asuransi, soalnya memang perlu juga sih untuk antisipasi. BTW saya baru tau min sama asuransi Lifepal, next saya mau tau lebih lanjut tentang Lifepal. Thanks Admin prim.my.id...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya seperti ban serep sih fungsinya. Kalau bisa ya nggak perlu dipakai, tapi pas perlu pakai, at least barangnya ada dan ready to use.

      Lifepal ini marketplace asuransi. Jadi ngebantu banget untuk compare produk asuransi A, B, C agar kita ga keliru beli asuransi.

      Hapus
  6. Menurut saya asuransi itu penting karena banyak manfaat

    BalasHapus
  7. Meyakinkan orang untuk mengikuti asuransi cukup sulit dan jangan sampai claim nya pun dipersulit.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau saya lihat dari beberapa case klaim sulit itu nggak melulu karena kesalahan pihak asuransi maupun agennya. Pihak nasabah pun juga berperan dengan tidak memahami detil isi polis mereka.

      Hapus
  8. Mantap mas, keren penjelasannya, semoga saya lebih paham asuransi untuk kedepannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih apresiasinya mas. Sampai sini apa sudah paham? 😁

      Hapus
  9. setujuu, asuransi juga perlu, karena merupakan invest juga ini.
    kalaupun misalnya beberapa orang nggak pengen ikutan asuransi, mungkin gapapa, asalkan ada simpenan juga di instrumen keuangan yang lain, yang menurutnya pas sama keinginannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hmm...kalau dibilang investment, saya kok kurang setuju ya mbak. Menurut saya asuransi itu untuk proteksi, thats it sih.

      Soalnya kalau menggunakan asuransi sebagai instrumen investasi rasanya kok salah kamar ya.

      Hapus
  10. Pernah ikut satu asuransi kesehatan yang cukup terkenal, tapi ditengah jalan keluar. Karena dulu ada isu yang beredar dan kejadian yang kurang bagus...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah sayang sekali. Trus gimana endingnya? Pindah perusahaan asuransi?

      Hapus
  11. It's my first time baca tulisan mas Prim yang panjang. Keren, Super lengkap informasi tentang pentingnya asuransi. Thanks mas Bro

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha...biasanya tulisannya pendek2 ya? Semoga walau panjang tapi ga bikin bosan ya mas.

      Makasih apresiasinya.

      Hapus
  12. Enak tapi juga eneg mas pakai asuransi, setuju itu dengan istilah Asuransi di beli tapi berharap nggak di pakai.

    Apalagi asuransi kesehatan, tentunya sangat membantu waktu kita sakit. tapi nggak berharap supaya sakit juga ..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, bingung kan. Beli tapi nggak pengen dikonsumsi. Tapi kalao ga beli nanti rugi sendiri. 😅

      Selamat berbingung ria.

      Hapus
  13. Informatif banget, enak dibacanya. Makasih tips-tipsnya juga, jadi bisa lebih selektif juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih apresiasinya. Semoga bermanfaat mbak.

      Hapus
  14. Saya masih wam banget soal asuransi, tapi yang saya tau, asuransi yang paling diharapin kepake ya asuransi jiwa hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha iya, karena yang paling sering ngejar agen asuransi jiwa soalnya. Jadi udah semacam tertanam di pikiran kalau asuransi ya asji.

      Padahal nggak cuma itu lho.

      Hapus
  15. Karena ketidakpastian adalah satu-satunya kepastian di dalam hidup ini.. Benar kak. setuju dengan pernyataan ini.

    BalasHapus
  16. Nah iya tuh asuransi, dibikin tapi ngga berharap dipake, lho! Tapi iya! mending deh tau dari awal ribet ngurusnya pokoknya belakangan ngga susah klaimnya. Pernah juga soalnya bikin asuransi terus belakangan ribet.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mas, udah bukan jamannya lagi nyalah2in si agen atau perusahaan asuransinya...kita sebagai nasabah juga wajib ngerti apa yang kita beli.

      Kan gimana-gimana, kita yang ngerasain manfaat/ruginya.

      Hapus
  17. Saya sampe sekarang kayanya masih kemakan stereotype asuransi itu bohong doang dan ribet jadi belum tertarik :D hamdalah abis baca ini ada pencerahan~
    Tinggal nyari info tambahan lainnya. Makasih mas~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya intinya mau ribet lah di awal untuk mempelajari produk yang mau kita beli.

      Hapus
  18. Jadi tergiur ikut asuransi selain BPJS nih, karena emang kadnag membantu banget disaat genting.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pengalaman saya sih, helpful banget memang. Cuman ya gitu, banyak orang salah kaprah. Dikiranya kalau punya asuransi tapi sehat2 terus itu rugi soalnya asuransinya ga kepake. Padahal gimana-gimana, sehat itu lebih menguntungkan daripada sakit.

      Hapus
  19. Baru kepikiran. Ternyata setelah kubaca artikel ini, memang bener melakukan aktifitas di rumah aja juga tetap ada risikonya.

    Asuransi jadi salah satu cara dalam mengelola risiko tersebut. Makasih penjelasannya kak. Pikiranku sedikit terbuka untuk melek asuransi ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Syukurlah. Pada dasarnya konsep asuransi itu mengantisipasi kemungkinan terburuk. Itu aja kok.

      Hapus
  20. Beli asuransi itu emang ribet sih. Banyak perrimbangan harus jeli dan teliti aturan mainnya. Tapi kalau sudah paham, tinggal gampang dan tidak salah kaprah di belakang tentang konsep asuransi. Nice info kak!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih apresiasinya, semoga bermanfaat kak.

      Hapus
  21. Sangat menarik asuransi. Tapi saya cuma punya bpjs

    BalasHapus
    Balasan
    1. Disimpen buat nanti kalau lagi cari-cari asuransi aja mas.

      Hapus
  22. wah asik banget tulisannya, bacanya sampe pelan-pelan karena tertarik mau melek asuransi. dan poin pentingnya udah di bahas di sini thanks tulisannya padat banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih apresiasinya Mbak. Semoga bermanfaat.

      Hapus

Posting Komentar

Share opini atau pengalaman kamu tentang topik tulisan ini di sini. Share juga tulisan ini temen-temenmu, jika menurutmu bermanfaat.

&Joy!

[ADS] Bottom Ads

© 2021

prim.