Tangani Kusta Sejak Dini, Yuk Cegah Disabilitas Karena Kusta

Cegah Difabilitas Akibat Kusta

Beberapa waktu lalu, saya mendapat kesempatan lagi untuk menghadiri lagi sebuah gelar wicara mengenai penyakit kusta bersama komunitas 1minggu1cerita.

Gelar wicara yang terselenggara atas kerja sama dari Ruang Publik KBR bersama NLR Indonesia ini menghadirkan dua orang narasumber yang luar biasa. 

Narasumber pertama adalah Dr. dr. Sri Linuwih Susetyo, ketua Kelompok Studi Morbus Hansen (Kusta) Indonesia dan Dulamin, Ketua Kelompok Perawatan Diri (KPD) Kecamatan Astanajapura Cirebon.

Apa Itu Kusta?

Sebelum melangkah lebih jauh, apa sih Kusta itu? Saya pribadi sih tidak terlalu paham apa itu kusta. Namun, dari pemaparan dr. Sri Linuwih, kusta merupakan sebuah penyakit akibat bakteri mycobacterium leprae yang menyerang syaraf manusia.

Nah, ternyata kusta ini, karena yang diserang adalah sistem syaraf, maka jika tidak tertangani dengan baik dapat menimbulkan kelumpuhan.

Bagaimana bisa begitu?

Karena bakteri kusta ini, pertama kali yang diserang adalah syaraf, maka jangan heran kalau penderita kusta itu awalnya mati rasa. Namun karena tidak segera ditangani, maka kusta tersebut dapat menyebar ke area tubuh dan pada akhirnya menyebabkan kelumpuhan.

Logikanya begini, ketika syaraf mengalami mati rasa, maka tubuh tidak akan mengenali rasa sakit yang timbul karena kerusakan akibat serangan bakteri mycobacterium leprae ini. 

Pada akhirnya kerusakan-kerusakan tersebut terakumulasi hingga menjadi parah dan pada akhirnya terjadi kelumpuhan pada penderita kusta.

Gejala Kusta

Kusta memiliki gejala yang mirip dengan penyakit-penyakit kulit lainnya, yaitu timbul bercak merah atau putih pada kulit.

Masalahnya, yang memiliki gejala seperti itu bukan hanya kusta. Penyakit-penyakit kulit yang disebabkan oleh jamur seperti panu juga memiliki gejala berupa timbulnya bercak pada kulit.

Lalu bagaimana memastikan bahwa bercak yang muncul pada kulit merupakan gejala kusta, bukan penyakit kulit ringan akibat jamur?

Hanya ada satu cara, pergi ke faskes terdekat untuk melakukan pemeriksaan kusta. Dengan pemeriksaan kusta ini, maka kusta bisa terdeteksi sejak dini sehingga dapat mengurangi risiko terjadinya difabilitas akibat kusta.

Kenapa mengurangi risiko? Karena sebenarnya, bila bercak telah muncul, artinya bakterinya sudah bersarang di dalam tubuh dan entah sudah berapa lama.

Menurut dr. Sri Linuwih, “Waktu yang diperlukan dari masuknya bakteri mycobacterium leprae hingga timbulnya kelainan-kelainan itu memakan waktu rata-rata 3-5 tahun.”

Karena itulah, apabila terdeteksi bercak berwarna merah atau putih terutama di bagian-bagian tubuh yang digunakan untuk aktivitas sehari-hari seperti tangan, kaki dan mata, sebaiknya segera bawa kef askes terdekat untuk pemeriksaan.

Stigma Kusta Di Mata Masyarakat Menyebabkan Penanganan Kusta Terlambat

Tapi bagaimana kalau nanti ternyata benar itu kusta? Apa kata orang-orang? Nanti dikira penyakit kusta yang diderita merupakan hukuman dari Tuhan atas dosa-dosa yang pernah kita perbuat.

Fenomena ini memang walaupun disayangkan, tetapi masih terjadi. Banyak orang yang kurang teredukasi tentang kusta menganggap penyakit ini merupakan sebuah kutukan.

Akibatnya, penanganan-penanganan kusta jadi terhambat karena penderita kusta enggan memeriksakan gejala yang mereka alami ke faskes karena, takut apa kata orang. Sehingga, penanganannya pun terlambat, dan risiko difabilitas akibat kusta pun meningkat.

Masyarakat sebagai salah satu support system seharusnya menjalankan perannya memberikan dukungan kepada penderita kusta, alih-alih menganggapnya sebagai hukuman atas dosa seseorang.

Agar masyarakat dapat terbuka wawasannya tentang penyebab penyakit kusta, gejala dan cara penanganannya, pemerintah perlu berperan aktif dalam mengkampanyekan fakta-fakta tentang kusta dan bahayanya bila penanganan pada gejala-gejala kusta terlambat diberikan.

Hal senada juga diutarakan oleh Dulamin, ketua Kelompok Perawatan Diri (KPD) yang menyayangkan stigma negatif masyarakat tentang kusta. Namun, ia juga menghimbau dan menekankan pada para penderita kusta untuk tetap melakukan pemeriksaan ke faskes bila menemukan gejala kusta.

“Pemerintah perlu memperbanyak informasi bahwa kusta ada obatnya dan gratis” tutup pria paruh baya ini di akhir sesi.

Kesimpulan

Kusta merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri mycobacterium leprae bukan penyakit kutukan seperti stigma yang sudah beredar di masyarakat. Selain itu, kusta juga ada obatnya dan bisa didapatkan secara gratis di puskesmas terdekat.

Untuk memangkas berkembangnya stigma negatif masyarakat akan kusta, pemerintah perlu lebih pro-aktif dalam mengedukasi masyarakat tentang kusta.

Oya, menurut kalian, apa ya yang bisa kita lakukan untuk berkontribusi dalam mencegah difabilitas akibat kusta ini? Yuk bagikan tanggapanmu di kolom komentar di bawah ini ya.

Share juga ke teman-teman kamu, kalau menurutmu artikel ini bermanfaat ya.


6 komentar

  1. salut sama kegiatan KPD yang dilakukan Pak Amin dan kawan kawan
    meski sederhana tapi dampaknya besar untuk menghapus stigma penderita kusta
    semoga kegiatannya lebih meluas lagi ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, kita perlu lebih banyak orang-orang seperti pak Dulamin ini.

      Hapus
  2. Aku kemarin ikut ini juga kak, jadi sedikit paham tentang kusta. Selama ini masih penasaran kok bisa bikin disabilitas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, ternyata si bakterinya itu bikin penderitanya ga berasa kalau ada something wrong dengan sistem syarafnya hingga akhirnya semua terlambat.

      Hapus
  3. semangat selalu ya kak :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Share opini atau pengalaman kamu tentang topik tulisan ini di sini. Share juga tulisan ini temen-temenmu, jika menurutmu bermanfaat.

&Joy!

[ADS] Bottom Ads

© 2021

prim.